Monthly Archives: April 2015

‘Andi…kamu melamun terus daritadi’
aku menatap laki-laki yang duduk dihadapan ku, dia menggenggam handphone nya dengan gugup.

‘Eh, sorry…langitnya bagus…’ aku menjawab singkat, dia tersenyum kecil dan menatap langit.

‘Kamu sebegitu nggak fokus nya…’ jawab nya singkat, aku memalingkan wajah dan menatapnya.

‘Apa sebegitu membosankannya aku?’ Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Menepuk-nepuk punggungnya yang lebar dan tertawa.

‘Enggak lah, tapi suasana ini nyaman sekali…’ kali ini aku menatap ombak yang menggulung sedikit ganas.

‘Mendung, kita nggak bisa liat sunset…’ aku melanjutkan santai.

‘Rencana kamu married tahun depan, masih kekeuh?’ Aku menatap Rama dan tersenyum.

‘Aku udah bilang kan…kapan kamu lamar saja lah…’ jawabku anteng sambil melihat wajah Rama yang nggak bisa aku tebak mood nya.

‘Begitu?’ Jawabnya dingin, aku bergeser sedikit dan menatap Rama serius.

‘Rama, kamu tau hal yang paling menyakitkan? Berharap kepada manusia. Aku sudah pernah berharap sangat banyak sebelumnya pada seseorang, dan itu sangat sakit. Rama…kamu tiba-tiba nanya kapan aku ingin menikah? Aku sudah berhenti ingin, Rama. Banyak ingin yang sudah aku tepis.’ Aku menjelaskan pada Rama apa yang aku pikirkan, Rama kelihatan sedikit terkejut dengan jawaban itu, dia menghela napas.

‘Aku tidak berharap apapun dari hubungan kita, Rama…’ ujar ku jujur. Aku tidak ingat berapa lama kami diam terus seperti ini sampai tiba-tiba Rama berdiri dan menepuk jeans nya yang kotor karena pasir.

‘Kita pulang, yuk’ Rama menawarkan tangan nya untuk membantu ku berdiri. Aneh, bergandengan tangan seperti ini dengan Rama membuat jantungku meloncat.

‘aku tidak akan berusaha untuk membuat kamu yakin, Andi. Lihat saja nanti, di jari manis kamu ini akan ada cincin nya dan aku yang memakaikannya.’ Rama mengatakannya tanpa memandangku, dia menggenggam tangan ku sedikit kuat, seolah-olah kalau dia melepaskannya aku akan terbang entah kemana.

Aku hanya tersenyum

‘Gombal…’ jawabku santai, Rama cemberut.


I love you
how long it’s been the last time I heard that words?
It felt so ordinary before, that words.

I miss you
butterflies started spreading around my tummy, my heart pumps like crazy. It feels different when you utter those words.

I don’t care how many girls you’ve told those, or how many times you’ve fallen into the wrong heart. All of us had past and it won’t disturb our future, no.
I’ve told you I’m not going to rely my happiness on someone, no more. You smile instead and put your happiness on me and you said because you believe I can make you happy until the rest of our life.
Gombal.
But your face looked serious. My heart fluttered.

No matter how many hellos you’ve meet or how you counted your goodbyes. But I’m going to be the sweetest hello and there’s no goodbye. InsyaAllah.
my F.R


Hai kamu, apa kabar?
Walaupun kamu sudah berhenti ada di dalam doa aku, tapi aku mau kamu sehat.
hai kamu, terimakasih banyak ya…untuk semuanya.
lagu Ed Sheran – thinking out loud adalah kamu untuk aku, dan lagi aku jatuh di cinta yang salah.
ternyata cuma dua bulan saja, sesingkat itu dan dalam waktu sesingkat itu aku nyaman sekali.
aku berdoa semoga kita, semoga kita dan semoga kita.
tapi makin jauh kita jalan, jalan nya makin sulit. seolah-olah Allah berbisik ‘bukan dia’.
dan semakin diperhatikan kita cuma punya satu kemiripan, sayang sama kucing. Cuma itu, lainnya? Nggak ada.
Aku nggak mungkin bisa kompromi kan dengan keputusan mutlak Nya?
‘Aku nyaman sama kamu’ kata yang aku mau nya keluar dari mulut kamu malah aku dapat dari orang lain.
‘Kita serius yuk, umur kita kan udah nggak muda lagi untuk bercanda’ itu juga didapat dari orang lain.
Kamu, aku dengar ingin sekali berkeluarga ya? Dan apapun rencana kamu dimasa depan, aku nggak akan pernah ada didalam nya.
cool, ya itu kamu dan semoga kamu nggak begitu lagi nanti dengan orang lain. Membayangkan kamu dengan orang lain nantinya bikin kepala aku mau pecah, tapi selain ikhlas apa lagi yang bisa aku lakukan?
jadi, selamat tinggal kamu setelah kamu πŸ™‚

image