‘Makasih Andi, aku bahagia karena kamu’ Andi cuma ngeliatin Rama sambil diam, Rama tersenyum didepan nya.

‘Andi, aku bahagia ada kamu’
‘Andi, aku nggak tau gimana hidup aku kalo nggak ada kamu’
‘Beruntung aku ketemu kamu, Andi’
‘Kalo kamu nggak ada…aduuh nggak tau deh gimana runyam nya aku’
‘Cinta kamu, Andi’

Andi diam, bukan karena dia ngerasa tersipu-sipu atau senang dengar kata-kata manis itu, tapi karena semua kata-kata itu pernah dia dengar dari orang yang hatinya pada akhirnya pergi ninggalin Andi.

Andi merasa muak dengan kata-kata itu, wanita lain mungkin akan bahagia sekali mendengarnya, ya, Andi juga, dulu. Kata-kata yang sama orang yang berbeda.

‘Andi, kenapa?’ Rama kelihatan khawatir karena Andi diam saja.

‘Kamu, bisa tolong berhenti ngegombal?’ Jawabnya sambil tertawa, Rama heran dengan jawaban Andi.

‘Itu bukan gombal itu–‘ Rama belum selesai bicara Andi memotong nya.

‘Rama, semua kata-kata itu pernah aku dengar dari orang yang ninggalin aku dulu. Jadi kamu–‘ Andi diam karena Rama menarik kepala Andi dan memeluknya. Serangan jantung mendadak.

‘Kamu keliatan sangat hancur setiap ceritain tentang mantan kamu itu…’ ujar Rama serius.

‘Ya, aku memang sudah hancur…’ jawab Andi datar, Rama langsung melepaskan Andi.

‘Dan nggak segampang itu aku percaya dengan orang lain’ sambung Andi, Rama butuh usaha yang nggak gampang untuk buat Andi percaya. Entah Rama akan menyerah atau Andi yang luluh, entahlah.

Advertisements