Monthly Archives: July 2015

Lebaran mungkin jadi momen yang paling nggak asik buat cewek-cewek yang umurnya udah 25 aja dengan sempurna.
ya, benar. Pertanyaan ‘kapan kawin?’ Buat yang masih single. ‘Kapan rencana punya anak?’ ‘Kapan rencana anak kedua?’ ‘Kapan wisuda?’ ‘Kapan pengen lanjut kuliah?’ ‘Kapan calonnya dikenalin?’ ‘Kapan calonnya dibawa?’ Dan sejuta pertanyaan kapan yang kamu aja was was dengarnya.
well, me? I’ve got asked a lot of ‘when’ questions at Lebaran.

Dan dijawab dengan nyantai sambil ngunyah nastar ‘masih pengen main’ semua orang keselek dengarnya.
hah? Apa? Aku nggak boleh jawab gitu? Cuma laki-laki yang boleh jawab gitu? Where’s the gender equality that you’ve said? Manaaah?

Jawaban terdalam sih, aduh tante, oom, paman, pakwa, yahtuan, nektu, dini pengen nya pulang dari sini juga nikahan, tapi nggak segampang itu kan?
menyatukan dua keluarga yang pikirannya otomatis nggak sejalur itu ribet pake kali.
eh, iyakan? Menikah bukan cuma dua orang aneh aja yang berusha menyatukan ide-ide mereka yang nggak sejalan, tapi juga keluarganya. Dan mikirin hal itu bikin otak agak sumpek, dan pusing sendiri.
Itu family matters yang bakalan dibawa-bawa kalo mau egois ah, yang penting nikah lah titik abis. Nggak, perkara nggak bakalan abis, aku lagi mikir otak kami aja sering nggak sejalan, keluarga pasti lebih parah nantinya.
Jadi sebelum nanyain ‘kapan kawin?’ Ada pemecahan nggak untuk masalah yang ini?
Kadang hidup sekali-kali perlu juga masa bodoh.
ngek


‘Aku berangkat nih…’
akhirnya laki-laki penting itu berangkat mudik juga, sehari sebelum lebaran. Yap. 17 juli. Yap. ulang tahun aku. Nasib…

Berharapnya pas ulang tahun itu yang disayang ada kan ya, apa harapan nya kelewatan? Kayaknya nggak deh.

Jam 8.12 tadi mendadak telepon

‘Hey!’

‘Heeey…’

‘Kok lemes? Capek ya bersih-bersihnya? Ahahaha’

‘Ho’oh…’

‘Eh, lagi dimana?’

‘Diruang tv…’

‘Iiih, keluar bentar dong…’

‘Males geraak…’

‘Malu dong teleponan didengarin mama…’

‘Gak apaa kali, apaan…’

‘Ada yang mau aku omongin, privacy niih’

Akhirnya bangun dengan sejuta rasa males, trus keluar rumah. udah ada aja yang berdiri sambil celingukan didepan rumah. Bukan, bukan dia…

‘Eh, kok ada aliev?’

‘Hah?? Ngapain si aliev?’

Aliev buka pintu pagar sambil bawa plastik gedek warna ijo, terus nyengir

‘Ini titipan dari rizki…’
Ngambil dengan muka begok gila.
Suara ketawa orang itu mulai kedengaran.

‘Hiiiing, apa niih…’

‘4 jam lagi sih, tapi selamat ulang tahun ya, maaf aku nggak bisa kasih langsung. Ulang tahun kamu pas lebaran sih…ahahaha’

‘Haaaaaah??’

‘Yaelah ahahahaha, semoga-semoganya udah didoain ya, tapi rahasia kamu nggak boleh tau. Cukup aku sama Allah aja…’

‘Hmm…makasi ya…’

‘Iyaaa, ahaha…eh udahan ya aku disuruh beli kelapa nih sama mama…daaaah’

Udah gitu aja dan aku masih nggak yakin, well ekspektasi nya dia bakalan ngasih kado nanti pas udah pulang mudik. Lagian aliev dari mana tau rumah? Gembel.
anyway, terimakasih kamu, dapat teman baru deh :3

image


‘Dia itu cuma teman, sayang’

‘Lah, kita itu dulunya juga teman…’

‘Iya memang, tapi kan maksud aku dekatin kamu nggak cuma sekedar teman’

*cemberut*

‘aku cuma nolongin skripsi mereka kok, itu aja’

*masih cemberut*

‘Kamu itu teman aku juga, teman hidup aku’

*jantung mulai nggak stabil*
Gawat, laki-laki ini lawan yang kuat. Cepat kali hati ini lemah, cuma digombalin gitu aja. Well, I like it. Kampret.


Itu hidup dia, yang dia ceritakan bahwa hidupnya pernah pahit.
diselingkuhin, ditikung teman, ditinggalkan…
How hard is that?

Meanwhile, mine is…
Diselingkuhi, ditinggalkan dengan satu orang yang sudah bersama selama 4 tahun.
I think I’m not gonna fall in love once again.

Dan dia bilang aku takut sekali sebenarnya untuk jatuh cinta lagi. Bagaimana kalau terulang lagi? Well, it’s the risk which is taken…

Dan aku yang santai dengan hubungan kami dan berpikir, aku sudah pernah mencintai sangat sekali dan dibuang begitu saja jadi dengan yang ini, Tuhan, jika dia pergi, kapanpun itu…aku ikhlas.

Dan dia yang tidak mau berbicara tentang hal yang serius terus dalam hubungan kami dan berpikir, aku sudah bernah bersikap sangat memuja dan diabaikan begitu saja jadi, Tuhan, jika yang ini pergi…aku rela.

We smiled, we both smile to our simply honest conversation.

Finally, we found our similarities, right? πŸ™‚