Monthly Archives: September 2015

Nggak papa
pada akhirnya nggak papa kan? Nggak mati kan?
Kecewa iya, sedih iya

Begitulah

Yang aku pikir ada dimasa depan, cuma berhenti sampai dimasa lalu aja.

Dadah kamu

Advertisements

Gotta hate coffee shop…
Gotta hate Path and already uninstalled
gotta hate your perfume
gotta hate blue

‘Sudahlah, beruntung aja belum lama’ kata mereka yang mencoba menghibur sekuat tenaga, tears still falling

Semalaman ditemanin mama buat nangis, so silly.
Tidur juga nggak kepengen sendiri, jadi gangguin mama sama ayah.

‘Ma, I thought he was the last…’ mama cuma mengelus pundak yang kian ringsek, turun dan hopeless.

‘Kita tetap bisa jadi teman ya, kalo perlu apa-apa bisa sharing’
Teman? Aku nggak mau jadi teman kamu woooii, aku maunya jadi istri kamu. Sharing? Apa yang bisa aku bagi? Rasa kecewa sama kamu???

‘Thanks God, it’s over, bodoh! Dia belum siap apapun masalah menikah. Kamu itu nyari calon suami, dia nyari calon pacar, dari situ aja udah keliatan kalian beda tujuan. Sebenarnya mau ngasih tau kamu dari pertama ketemu dia, tapi karena masih baru pasti kamu nggak mau dengar.’ (Abdin, 24thn)

‘Tunggu aja dalam dua minggu, dia pasti punya pacar baru.’ (Laks, 25thn; kawan apa kampret ni orang)

So, stormy days come again…


Mungkin lagi baperan, iya anggap aja gitu

Nangis lagi semalam suntuk, cuma gegara baca komik trus dihubung-hubungin sama kehidupan pribadi. Kan nggak ada kerjaan.

Rasanya pengen teriak dia berubah…dia berubaaah γ…œ γ…œ

Pengen nyari kerjaan ditempat lain…

Pengen tinggal di kota lain…

Pengennya banyak, terutama punya mood stabil, iya…my swing moods’ kinda bad.

Currently listening: kamu yang kutunggu – Rossa ft. Afgan 🎶