‘Karma itu ada’
Someone ever said that, tapi buat aku bukan karma…Allah membalas sesuai dengan perbuatannya, itu saja.

Bukan orang yang terlalu religius juga, lah masalah agama masih cetek kok tapi aku serius nggak mendoakan yang aneh-aneh buat orang ini, ya orang yang kenal di awal tahun 2015, yang waktu itu rajin-rajin nya minta sama Allah buat diketemuin sama jodoh. BOM! He appeared.

Asra, laki-laki yang jika terlintas dikepala ingatnya cuma warn orange, karena yah dia cinta warna itu. Dan laki-laki berbadan besar ini dikenalkan oleh seorang teman yang katanya dia lagi nyari calon pendamping hidup. Indeed, aku klepek dong dengan niatnya.

He’s good-looking, white-skinned, tall, healthy, wealthy, pokoknya idaman lah, for me. Ahem.
kami dekat, jalan, makan, dan dia perhatian. Aku yang udah lama jomblo dan harapin segera datang pendamping jadi harapin yang tinggi sekali sama laki-laki kekar ini.
it didn’t go well, as smooth as smoothie? Nope, nggak semulus itu.
Hobi ilang-ilangan adalah yang buat aku merana sepanjang hari, uring-uringan, sedih gak jelas, yah diphp-in gituu. Tiga bulan kami dekat, dia nggak ajak aku jadi pacarnya, yap ladies and gents, I was just his-toy-which-he-took-once-he-got-bored. BOM!
Sampe suatu hari dia ngajakin main ke laut, alasannya penat. Yaudah deh, aku diam ngeliatin laut dan dia juga.

‘Kamu, serius nggak sih sama aku?’

‘Hmm, aku sih nyaman sama kamu’

‘Terus?’

‘Tapi aku belum bisa ikat kamu, kayak pacaran gitu’

‘Kamu juga lagi dekat sama orang lain?’

Long pause epribodeh

‘Iya sih, tapi kamu yang paling dekat kok’
Ngek…that time I know I should take a step back.

‘Kamu bisa dekat sama dia aja deh, aku nggak usah’
silent, the he took me back home. He didn’t say anything, I didn’t dare to say a word, it was an awkward silent, but I know that was the last time I saw him.
malamnya aku nangis, nangis dong ya, ah, paling gampang nangis deh.

Months passed, kadang-kadang dia masih ngechat cuma buat nanyain kabar and so, basabasi and it ended in silent.
tanggal 24 Oktober tetibaan he appeared again in front of my house.
‘Tadi lagi ada didekat sini, jadinya mampir’

‘Oh, iya. Duduk deh’

‘Sehat?’

‘Alhamdulillah, asra?’
He smiled and long silent.

‘Barusan dari rumah Nia’
ah elah ngapain ngelapor, pak? Ini bukan pos hansip

‘Sehat Nia?

‘Dia tunangan’
eeh, wait for it…apaaa?

‘Hah??’

‘Dia tunangan, dia bilang dia nggak mungkin nungguin aku lebih lama’
diam, eh air matanya ngalir lho ini cowok, ya amplop aku pura-pura nggak ngeliat ajalah.

‘Emm, kamu juga nggak ngikat dia? Ajak pacaran, nggak juga?’
Dia angguk bloon, aku cuma ngela napas panjang, sepanjang tembok cina

‘Sabar ya…’
Another very long silence

‘Eh kamu, apa udah move on?’

‘Hmm, belum lah…’

‘Oh, emm, eh…emmm, aku minta maaf ya sama kamu…ngegantungin kamu, maaf ya’

‘Ah nggak, nggak papa…’
Another long silence

‘Yang lebih baik, udah disiapkan buat asra, tinggal memantaskan diri aja kok ya…’
Dia senyum, aku jadi lebih lega ngeliatnya

‘Kamu, semoga diketemukan dengan yang baik ya, eh aku balik ya, nggak enak udah jam 10’
Bukain pintu pagar, trus senyum. Aku cuma bisa bilang semangat buat dia.
It’s so hard pasti, dan aku sedih, semoga nanti nggak php-in cewek lagi dia, jangan banyak kali stok deh, ini cewek lho bukan sayur bayam, mas.
Teman-teman bilang itu karena udah buat satu orang cewek nangis nggak jelas cuma untuk sebuah kepastian. Waktu itu rasanya pahit pake sungai, but I know his life is worse. Aku nggak doain yang jelek buat kamu, asra. Semoga kamu belajar ya buat lebih menghargai perempuan. Good-looking isn’t enough, all you need is a heart to appreciate everything. Sabar ya 🙂

Advertisements