Monthly Archives: April 2016

The day’s finally come.
Yap, hari yang kami nggak tunggu-tunggu kedatangannya, it’s here.
Jadi teman kantor yang nikah dibulan Februari kemarin akan ikut suaminya tinggal di Bandung, Pida.

She’s a nice person, I mean she’s really nice and friendly dan semua orang sayang sama dia. Hihihi…

A very logical person, iya mikir nggak pake perasaan pokoknya kalau menurut dia begitu ya dia utarain pendapatnya aja terus, masalah perasaan orang belakangan, hahaha.

A good listener, dengarin curhatan dari yang nggak penting sampe yang nggak penting sekali dia rela ngasih telinganya, dan solusinya…very logic. Thanks (oke ini mulai sedih)

A good shopping and eating partner, belanja nggak akan pake rem, kami bisa balapan kencang untuk masalah yang satu ini, dan aku akan merindukan sosok dia yang selalu ada saat weekend dan butuh teman jalan.

A caring person, peduli sekali malahan cenderung kepo, aahaha, tapi itu dibutuhin untuk jadi istri yang baik kan? Bukan orang yang peka, kayaknya tombol peka nya macet deh, tapi overall yang seperti dia ini nggak akan dapat lagi dimanapun.

Seperti orang-orang bilang, kan bisa telepon, chatting, video call dan banyak media yang bisa dipakai, iya aku tau, tapi it’s going to be different. Beda ya kan?

image

Satu aja yang seperti dia, kenapa harus rezeki yang satu ini dikurangin? Aku akan sangat rindu dengan teman yang satu ini, entah itu ceriwisnya dia saat lapar, entah itu ajakannya yang sering tiba-tiba batal, komen pedasnya, rasa penasarannya, yang penting aku pasti rindu. Bukan seseorang yang sangat religius, tapi satu pintu rezeki ditutup, rezeki yang lain terbuka kan?

Pokoknya aku mendoakan dia berbahagia dimana pun dia, dan menjadi istri yang baik sekali, ibu yang baik tentu saja, karena dia sudah selesai jadi teman kami yang sangat baik. Makasi untuk menjadi teman yang baik selama 19 bulan, pida πŸ™‚

Advertisements

‘jadi kemarin itu kamu keluar sama cowok-cowok ini? Kamu sendirian lagi ceweknya’

Ngekeh sambil coba jokes garing yang pastinya nggak lucu, mukanya udah aneh aja, weird, his expression was, err, how long was it someone felt jealous on me? Two years ago? Nggak ingat tapi yang ini rada ngeri, iya mukanya langsung nggak enak terus mau ngapa-ngapain juga bingung. Jelasin panjang lebar kali tinggi kalo mereka itu cuma teman SMP tapi explanation denied deh -_-

‘cinta pertama kamu ada disini?’

Mampus, seriously mampus. White lie ato hurting truth? Nggak, sekali bohong terus-terusan bohong nantinya.

‘iya tapi itu kan cerita lama, lamaaaa kali’

Mukanya unexplainable lah pokoknya, rayuan maut nggak mempan, gombal apalagi, pura-pura mati aja udah.
But we’re not kids anymore kan? Dia bisa jadi mendadak dewasa kayak gitu dan aku juga kok jadi penurut nggak jelas. Yes he has it, charisma. Hoek.

‘maaf aku cemburu…’

Aku senyum, well too much common things on us dan aku jelasin kalo aku lebih parah malahan cemburunya, cuma belum keliatan aja, aku belajar nahan cemburu dari Rizki, dan works better than I thought. He laughed and rubbed my head. Semoga dia nggak berhenti cemburu seperti ini.
Well, love never felt so good.


April disini dan dimulai dengan sifat boros aku yang makin liar dan aurauran.
Aku hobi beli apa aja, dan itu nggak pake rem, belinya nggak satu pula, kampret kan.

Dikantor masih santai, sama pakbos lama masih sesekali dipanggil buat minta bantu, boleh bapak, saya padamu (masih) ahaha, ngawur abis yang ini.
Pakbos baru nggak suka staf nya nggak punya kerjaan, sering nyuruh yang gampang-gampang, fotocopy, arsip, ngetik risalah rapat, gitulah -__-

Dan, ahem, feelings revealed dibulan kemaren, nggak pernah mikir ujungnya jadi kayak gini, mikir aja males, apalagi bayangin, because he’s my friend. Dia bantu banyak disemua masalah, dan aku pengen bantuin dia dapat kerjaan yang bagus. Semua loker ditawarin dan dia cuma senyum awkward. Gak ada yang cocok apa ya? Ato aku yang kelewat ribet? Fiuh
Time passed, dia kerja ditempat yang dia mau, yang mungkin memang menurutnya itu yang klik kerjaannya and he told me all of this is for me.
*gulp* wait, what?
Sebenarnya aku sedikit khawatir, eh nggak, bayak khawatir nya, entah, menurut aku udah terlalu terlambat untuk mulai hubungan yang baru lagi, tapi mungkin udah kayak gini jalannya. Although we feel something behind our friendship, we’re still friend anyway. Ya, ngakak masi lomba-lombaan siapa yang paling besar suara, berebut aduk minuman di latte art, berebut duluan ngabisin minuman, dan hal nggak penting lainnya. We’re still the same, cuma kalo lagi rame-rame sering curi-curi pandang gak jelas aja. Weird.
Nggak sama semua teman diceritain tentang yang satu ini, entahlah karena aku sedikit malu untuk bilang kok kayaknya jadi banyak kali sesi dalam hidup ini untuk jatuh cinta ya -__-” seharusnya sesi itu ada dijaman SMA atau kuliah. Kamu telat dewasa, nak. Eh, sama mama dan ayah juga nggak diceritain, belum.
image

Yah seperti ini saja, harapan sudah mulai tumbuh sedikit, berdoa saja semoga tidak ada hal-hal aneh kedepan nanti.