April disini dan dimulai dengan sifat boros aku yang makin liar dan aurauran.
Aku hobi beli apa aja, dan itu nggak pake rem, belinya nggak satu pula, kampret kan.

Dikantor masih santai, sama pakbos lama masih sesekali dipanggil buat minta bantu, boleh bapak, saya padamu (masih) ahaha, ngawur abis yang ini.
Pakbos baru nggak suka staf nya nggak punya kerjaan, sering nyuruh yang gampang-gampang, fotocopy, arsip, ngetik risalah rapat, gitulah -__-

Dan, ahem, feelings revealed dibulan kemaren, nggak pernah mikir ujungnya jadi kayak gini, mikir aja males, apalagi bayangin, because he’s my friend. Dia bantu banyak disemua masalah, dan aku pengen bantuin dia dapat kerjaan yang bagus. Semua loker ditawarin dan dia cuma senyum awkward. Gak ada yang cocok apa ya? Ato aku yang kelewat ribet? Fiuh
Time passed, dia kerja ditempat yang dia mau, yang mungkin memang menurutnya itu yang klik kerjaannya and he told me all of this is for me.
*gulp* wait, what?
Sebenarnya aku sedikit khawatir, eh nggak, bayak khawatir nya, entah, menurut aku udah terlalu terlambat untuk mulai hubungan yang baru lagi, tapi mungkin udah kayak gini jalannya. Although we feel something behind our friendship, we’re still friend anyway. Ya, ngakak masi lomba-lombaan siapa yang paling besar suara, berebut aduk minuman di latte art, berebut duluan ngabisin minuman, dan hal nggak penting lainnya. We’re still the same, cuma kalo lagi rame-rame sering curi-curi pandang gak jelas aja. Weird.
Nggak sama semua teman diceritain tentang yang satu ini, entahlah karena aku sedikit malu untuk bilang kok kayaknya jadi banyak kali sesi dalam hidup ini untuk jatuh cinta ya -__-” seharusnya sesi itu ada dijaman SMA atau kuliah. Kamu telat dewasa, nak. Eh, sama mama dan ayah juga nggak diceritain, belum.
image

Yah seperti ini saja, harapan sudah mulai tumbuh sedikit, berdoa saja semoga tidak ada hal-hal aneh kedepan nanti.

Advertisements