Tag Archives: Rama

‘Makasih Andi, aku bahagia karena kamu’ Andi cuma ngeliatin Rama sambil diam, Rama tersenyum didepan nya.

‘Andi, aku bahagia ada kamu’
‘Andi, aku nggak tau gimana hidup aku kalo nggak ada kamu’
‘Beruntung aku ketemu kamu, Andi’
‘Kalo kamu nggak ada…aduuh nggak tau deh gimana runyam nya aku’
‘Cinta kamu, Andi’

Andi diam, bukan karena dia ngerasa tersipu-sipu atau senang dengar kata-kata manis itu, tapi karena semua kata-kata itu pernah dia dengar dari orang yang hatinya pada akhirnya pergi ninggalin Andi.

Andi merasa muak dengan kata-kata itu, wanita lain mungkin akan bahagia sekali mendengarnya, ya, Andi juga, dulu. Kata-kata yang sama orang yang berbeda.

‘Andi, kenapa?’ Rama kelihatan khawatir karena Andi diam saja.

‘Kamu, bisa tolong berhenti ngegombal?’ Jawabnya sambil tertawa, Rama heran dengan jawaban Andi.

‘Itu bukan gombal itu–‘ Rama belum selesai bicara Andi memotong nya.

‘Rama, semua kata-kata itu pernah aku dengar dari orang yang ninggalin aku dulu. Jadi kamu–‘ Andi diam karena Rama menarik kepala Andi dan memeluknya. Serangan jantung mendadak.

‘Kamu keliatan sangat hancur setiap ceritain tentang mantan kamu itu…’ ujar Rama serius.

‘Ya, aku memang sudah hancur…’ jawab Andi datar, Rama langsung melepaskan Andi.

‘Dan nggak segampang itu aku percaya dengan orang lain’ sambung Andi, Rama butuh usaha yang nggak gampang untuk buat Andi percaya. Entah Rama akan menyerah atau Andi yang luluh, entahlah.

Advertisements

‘Selamat ya kakak, sudah move on…’
Andita berulang-ulang membaca chat singkat dihp nya.
Move on, itu yang terbaca jelas.

Andi melempar hp nya ketempat tidur dan keluar kamar. Apa yang dia tau? Pikir nya.

Chat singkat dari calon-adek-ipar-yang-nggak-jadi-iparan membuat Andi sedikit kepikiran.
Apa dia memang sudah move on? Oke, sekarang memang ada Rama dalam hidup Andi yang menggantikan, eh tidak lebih tepatnya mengisi tempat nya Odi dulu.
Ya, Odi masa lalu nya Andi. Calon-suami-tidak-jadi nya Andi.
Odi yang berjanji menikahinya ditahun 2015
Odi yang selalu mengatakan nggak tau gimana hidup nya kalo Andi nggak ada.
Odi yang membuat hidup Andi terbalik 360°.

Apa Andi sudah move on? Adik nya Odi nggak pernah tau kan kalau Odi meninggalkan lubang besar dihatinya? Membuat Andi takut mencintai, membuat Andi takut dengan komitmen.
apa yang mereka tau? Bahwa Andi membutuhkan waktu setahun lebih untuk bisa melanjutkan hidupnya yang terasa kosong.
Odi, dunia nya Andi. Bagaimana mungkin Andi bisa berhenti mengitari dunia nya?
Mereka nggak tau bagaimana Andi sempat berpikir bahwa tidak perlu pasangan didunia ini, toh Andi punya orangtua yang peduli. They don’t know that.

Move on? Andi masih berjalan ditempat. Andi merasa takut akan banyak hal, tentang dia dan Rama misalnya.

Apa Andi sudah move on? Mungkin perasaan nya pada Odi sudah tersapu habis, bagaimana dengan luka yang ditinggalkan Odi? Tidak ada yang tau bahwa Andi butuh psikiater.


‘Andi…kamu melamun terus daritadi’
aku menatap laki-laki yang duduk dihadapan ku, dia menggenggam handphone nya dengan gugup.

‘Eh, sorry…langitnya bagus…’ aku menjawab singkat, dia tersenyum kecil dan menatap langit.

‘Kamu sebegitu nggak fokus nya…’ jawab nya singkat, aku memalingkan wajah dan menatapnya.

‘Apa sebegitu membosankannya aku?’ Aku tersenyum mendengar pertanyaannya. Menepuk-nepuk punggungnya yang lebar dan tertawa.

‘Enggak lah, tapi suasana ini nyaman sekali…’ kali ini aku menatap ombak yang menggulung sedikit ganas.

‘Mendung, kita nggak bisa liat sunset…’ aku melanjutkan santai.

‘Rencana kamu married tahun depan, masih kekeuh?’ Aku menatap Rama dan tersenyum.

‘Aku udah bilang kan…kapan kamu lamar saja lah…’ jawabku anteng sambil melihat wajah Rama yang nggak bisa aku tebak mood nya.

‘Begitu?’ Jawabnya dingin, aku bergeser sedikit dan menatap Rama serius.

‘Rama, kamu tau hal yang paling menyakitkan? Berharap kepada manusia. Aku sudah pernah berharap sangat banyak sebelumnya pada seseorang, dan itu sangat sakit. Rama…kamu tiba-tiba nanya kapan aku ingin menikah? Aku sudah berhenti ingin, Rama. Banyak ingin yang sudah aku tepis.’ Aku menjelaskan pada Rama apa yang aku pikirkan, Rama kelihatan sedikit terkejut dengan jawaban itu, dia menghela napas.

‘Aku tidak berharap apapun dari hubungan kita, Rama…’ ujar ku jujur. Aku tidak ingat berapa lama kami diam terus seperti ini sampai tiba-tiba Rama berdiri dan menepuk jeans nya yang kotor karena pasir.

‘Kita pulang, yuk’ Rama menawarkan tangan nya untuk membantu ku berdiri. Aneh, bergandengan tangan seperti ini dengan Rama membuat jantungku meloncat.

‘aku tidak akan berusaha untuk membuat kamu yakin, Andi. Lihat saja nanti, di jari manis kamu ini akan ada cincin nya dan aku yang memakaikannya.’ Rama mengatakannya tanpa memandangku, dia menggenggam tangan ku sedikit kuat, seolah-olah kalau dia melepaskannya aku akan terbang entah kemana.

Aku hanya tersenyum

‘Gombal…’ jawabku santai, Rama cemberut.