Tag Archives: tired

Halo bulan sembilan

Iya, September udah disini dengan ngasih hujan yang turun sepanjang hari, exactly sesuai dengan sebutannya berrr >__<

Dan apa kabar diet? Not so good and not that bad either. Tiga kilo turun, sip. 

Dan bagaimana hubungan ku dengan mama? Not so good not that bad either. Sip.

Apalagi ya? Ah iya, dibulan ini diawali dengan nggak enak. Dijodohkan (lagi), ditanya kapan mau akhiri masa lajang (lagi), ditanya ada niat S2 (udah gak pernah lagi ditanyain masalah ini), ditanya ‘what is so good being single?’ yeah actually what’s so good being single? I can’t say it’s nice being single, really, but being single means no kids, no responsibility, no headache. It’s mean, I know, but hey, how many people want those back? Those days when you don’t really have anything to think about and it’s just an empty phase in your head, yup completely blank. Call me childish, call me haven’t grown-up, but being single means you have so many times to thank your parents that they are there supporting you, and having ‘me-time’ without anyone disturbed. Ask me, do I love being single? Definitely, no, but I’m thankful for how I am now, and I hope that all of you pray for me not to be single anymore, soon, rather than asking me that question all over again. are you satisfied enough with my answer? 

Dan hari itu nggak ada yang protes dengan jawaban panjang dan sedikit sarkasme itu. Aku senyum lebar dan semua anggota keluarga yang ngumpul feeling uneasy. Siapa suruh nanya, Mamam tuh.

Advertisements

Aku lagi ngambil foto berdua dengan ayah yang lagi nyetir dengan santai. Iya, ayah nggak tau fotonya lagi aku capture buat postingan di path. Muehehe.

‘Jadi kamu dengan Rizki gimana dek?’

‘Baik, ayah…biasa…’

‘Maksud ayah kapan kamu nikahnya? Tahun depan? Atau 6 bulan lagi?’

Buggg. Jantung aku jatuh. Ayah yang nggak pernah nanyain masalah ini dan aku nggak pernah berharap dengar pertanyaan itu dari ayah. Ayah bukan orang yang suka omongin masalah ini, karena ayah pernah bilang melepas putri kecil ayah adalah hal yang paling sulit dalam hidup ayah. Dan kelihatannya ayah udah eneg ngeliat aku mondar-mandir dirumah.

‘Kami belum bicarain masalah itu ayah…’

‘Dibicarain lah dek, kalian apa mau pacaran terus?’

Itu bukan hal yang mudah tentu aja, nggak semudah ngajak main petak umpet atau ngajak makan kesuatu tempat.
‘Hey, riz…nikah yuk!’
Nah kedengaran kayak ngajak main rumah-rumahan kan? Dan aku nggak siap nanya sama manusia itu kapan bakalan kearah sana.
seandainya aja manusia itu adalah orang yang tahun lalu mungkin aku bisa sedikit memaksa, yang ini? Aku tidak terlalu mengenalnya.

Jadi kamu, apa kita harus bicarain masalah ini?
Jawabannya belum kan? Nanti…


Sudah, masa bodoh sajalah…
Perasaan nya udah bisa mulai dikurangi

Senang nya udah bisa ditenggelamkan aja
bahagia nya udah abis

Nggak usah dipikirin, dianggap aja bukan siapa-siapa
anggap aja teman seperti yang lain
dipikirin kamu bisa gila tau.
masa bodoh saja dengan itu semua

apa kamu bilang? Cinta? Omong kosong itu semua.

-mom’s harsh words-